Lanjutan....
Sejarah Majalengka Antara Fakta dan Mithos
Oleh : Rahmat Iskandar*
Friksi tentang kerajaan Pajajaran atau juga kerajaan Galuh belum pernah
tuntas dibahas sejarah. Namun legenda atau tradisi lisan yang tumbuh di
kalangan pemerhati carita rakyat bahwa sebetulnya setelah dilengserkan
dari raja Galuh, Prabu Dewa Niskala justru mendirikan kerajaan tempat
dia mabak mabak (membuka lahan baru) dengan istrinya, Dewi Lenggang
Kamurang.
Istrinya inilah yang sebetulnya menjadi ihwal
dilengserkannya Dewa Niskala. Dia keturunan Majapahit atau Wilwatika
yang jadi pacaduan keturunan Sunda , bahwa karena marah kepada Hayam
Wuruk, raja Majapahit, (peristiwa puputan di Bubat), Maka pangeran
Suradipati, adik Dewa Ningrat Kancana (Sri Baduga) turun pacaduan, semua
keturunan Galuh tidak boleh nikah dengan orang Majapahit. Dewa Niskala
justru nikah dengan orang Wilwatika tersebut (lihat Nagara Ketragama dan
Kidung Sunda).
Tidak ada petunjuk resmi mengenai keberadaan
kerajaan Rajagaluh. Namun, kerajaan ini diakui Naskah Wangsakerta Carita
Parahiyangan maupun buku Babad Tanah Sunda terjemahan PS
Sulendraningrat, (Pustaka Caruban Nagari-1786) sebagai kerajaan yang tak
mau tunduk ke Cirebon . Bahkan memilih perang habis-habisan yang hampir
melumpuhkan seluruh kekuatan Demak dan Cirebon.
Beberapa
prasasti, situs, menhir maupun naskah-naskah kuno yang tersisa di desa
Bobos, Cipanas (Cirebon), di desa Kaduela, Padabeunghar (Kuningan) ,
Bantaragung, Talagaherang, Indrakila, Pajajar dan Garawastu, menuntun
kita ke arah pembuktian sumber sekunder selemah apapun , tentang adanya
suatu kerajajan yang keberadaannya masih diakui masyarakat setempat.
Malah petunjuk itu menuntun kita bukan hanya pada Rajagaluh sebagai kerajaan kecil di bawah kekuasaan Pajajaran.
Namun lebih dari itu, masyarakat setempat yakin betul bahwa di sinilah
sebetulnya pernah berdiri kerajaan Pasirbatang (Galuh Pasundan) yang
kemudian berubah nama jadi Pajajaran.
Sebuah kerajaan yang
rajanya demikian dimitoskan rakyat Jawa Barat. Keberadaan makam Prabu
Haji atau Prabu Siliwangi di makam bukit Pasirbatang, Pajajar, senada
dengan bunyi prasasti Huludayeuh yang ada di desa Bobos. Ada sebuah arca
ganesha di desa Bantaragung yang menjadi ciri keberadaan Kerajaan
Muaraberes (ketika pindah ke Bogor, nama ini menjadi nama desa di dekat
kantor Pemda Bogor) .
Seperti yang tersurat dalam Pantun
Muaraberes yang naskahnya tersimpan pada seorang sesepuh di desa
setempat. Di kampung Cipari (Garawasatu) dan Hutan Hoeloedayeuh
(Bayureja) ada hutan Sirahdayeuh dan situs Kang Dingin ( yang permulaan)
yang dipercaya sebagai huluwotan berdirinya kerajaan Galuh yang pertama
.
Di Padabeunghar dan Kaduela ada patung Nyai Dayangsumbi yang
dipercaya masyarakat setempat sebagai tokoh legenda Sangkuriang. Ada
juga foklore mengenai matinya Patih kerajaan Pasirbatang yang bernama
Menak Gerba (adik Lenggang Kamurang dari Jipang) oleh Raden Mundingwangi
(Mundingsari Ageng).
Demikian juga di desa Cipanas, ada naskah
lama berupa pantun purwa, yang dimiliki Bapak Kajep. Yang menceritakan
pertempuran antara Galuh dengan Cirebon di bukit Sapaterangga (Gunung
Koromong dan sekitarnya) .
Pada lontar kuncen Aki Kasih di
Pajajar, memang terdapat secuil keterangan mengenai keberadaan Prabu
Mundingwangi putra Prabu Anggalarang yang dianiaya patih Menak Gerba
gara-gara Ki Patih tersebut jatuh cinta pada Nyi Lenggangkamurang, istri
dari Prabu Anggalarang (Dewa Niskala).
Konon, karena cintanya
kepada Lenggangkamurang, setelah Prabu Anggalarang mangkat, Raden
Mundingsari Ageng kemudian diculik oleh Nyai Kuntiwang, tukang sihir
yang menjadi suruhannya.
Mundingsari Ageng selanjutnya diracun
dengan getah 40 racun sehingga badannya melepuh, berborok dan bernanah.
Untunglah dia cepat ditolong Resi Purwagalih dari Padepokan Dandaka
(Sawala). Melalui perjuangan lama dan sulit, Mundingwangi akhirnya jadi
raja di keraton Indrakila yang kemudian namanya berubah menjadi
Pajajaran yang sekarang peninggalannya bernama desa Pajajar.
Setelah menikah dengan Dewi Mayangkaruna, putra Begawan Garasiang dari
kerajaan Talaga, nama kerajaannyapun diganti menjadi Galuh berpusat di
desa Sadomas, Rajagaluh. Putranya bernama Raden Parunggangsa yang
setelah menikah dengan Ratu Sunyalarang, raja Talaga, menjadi
ranggamantri (wedana) di Jerokaso, Talaga.
Prabu Cakraningrat
adalah raja Galuh terakhir sebagai salah satu keturunan Prabu
Mundingwangi yang lain dan tewas dalam pertempuran melawan tentara
Pakungwati yang dibantu Demak.
Prof.DR. Edi S Ekajati dalam resume
sejarah Kuningan menyebutkan bahwa Prabu Anggalarang adalah raja
Kuningan, nama lain Prabu Dewa Niskala, ayahanda Prabu Siliwangi.
Namun tidak secara eksplisit menyebutkan dimana letak kerajaan
tersebut. Dewa Niskala sendiri adalah raja Galuh Pakwan yang
diperkirakan berkedudukan di Karang Tawulan, Ciamis. Carita Parahyangan
sargah 1 menjelaskan, Galuh sebelumnya berpusat di Medangjati, Kuningan.
Pada masa pemerintahan Sang Wreti Kandhayun (Tanggal 14 paro
terang bulan Caitra tahun 1514 Saka - Maret 612 M) pindah ke desa Karang
Kamulan (Ciamis). Sehingga namanya berubah menjadi kerajaan Medang
Kamulan. Sedangkan nama
Pasirbatang terdapat dalam berbagai
pantun lama seperti Pantun Muaraberes, Pantun Lutung Kasarung, Legenda
Sangkuriang, Legenda Ciungwanara. Prabu Tapa Ageung atau Prabu
Permanadikusumah raja Pasirbatang yang dilanjutkan oleh , Guruminda
(Prabu Minisri), Ciungwanara (Prabu Manarah) tercatat sebagai raja Sunda
dalam Carita Parahyangan sargah 4. Bukti keberadaan kerajaan
Medangkamulan , di Karang Kamulyan, Ciamis diperlihatkan dalam bentuk
menhir yang belum diikuti pembuktian lain yang lebih kuat.
Mengenai Prabu Siliwangi itu sendiri merupakan mitos yang belum
terjawabkan. Dr.Ayat Rohaedi (Byapara Purbatista-1995) memperkirakan ,
dia itu mungkin Niskalawastukancana ayah dari Dewa Niskala (Pustaka
Rajya-rajya i bhumi Nusantara). Namun bisa juga Raden Pamanahrasa
(Purwaka Caruban Nagari - Pangeran Carbon) dan Sri Baduga Maharaja ayah
Prabu Niskalawastukancana yang meninggal di Bubat.
Jadi mungkin
kitapun bisa menyebutkan bahwa Prabu Mundingwangi tersebut adalah Prabu
Siliwangi yang selama ini dimitoskan rakyat Jawa Barat. Toh ada makam
(patilasan) Prabu Haji atau Prabu Siliwangi di Pajajar. Nama Prabu Haji
diakui beberapa prasasti di Bekasi dan Bobos.
Karena Raden
Pamanahrasa toh kawin dengan putri Nay Subanglarang, putri dari Ki Ageng
Tapa, jaro labuhan Muarajati (Tom Pires, 1485 M) .
Dalam Babad
Tanah Sunda disebutkan, bahwa Rajagaluh adalah kerajaan kecil yang
berada dibawah kekuasaan samrat Pajajaran. Sedangkan Kerajaan Talaga
merupakan pucuk umum (kordinator wilayah) yang mengkordinir
kerajaan-kerajaan kecil di wilayah barat. Termasuk Rajagaluh.
Pada saat itu, walaupun di Cirebon ada kerajaan-kerajaan kecil seperti
Cirebon Girang (Pantun Badak Pamalang) Indraprasta, Sing Apura atau
Surantaka. Namun sebagian wilayah Cirebon ada yang masuk ke dalam
kekuasaan Rajagaluh. (bersambung)
Sumber:https://www.facebook.com/kcmajalengka/