Sejarah Majalengka Antara Fakta dan Mithos
Oleh : Rahmat Iskandar*
Oleh : Rahmat Iskandar*
Dari 3 kerajaan besar di tanah Majalengka, Talaga mungkin yang memiliki bukti-bukti sejarah lebih lengkap. Selain disitir
banyak kitab-kitab terbitan Pakungwati, Talagapun meninggalkan beberapa situs dan legenda yang tersebar hampir di semua
wilayah Jawa Barat.
banyak kitab-kitab terbitan Pakungwati, Talagapun meninggalkan beberapa situs dan legenda yang tersebar hampir di semua
wilayah Jawa Barat.
Bukan hanya di sekitar Talaga yang jadi pusat kajian, namun sampai ke
bekas-bekas pelarian Arya Secanatapun tercecer berbagai cerita mulai
dari Cieurih, Kadu, Cadasngampar, Tanjungsiang sampai ke Subang dan
Cianjur.
Keturunan Talaga tidak hanya diakui rakyat Talaga tapi juga oleh para penulis sejarah Subang dan Cianjur. Bahkan tertulis
dalam Kitab Melayu Ihwal Kerajaan Pugung di Lampung Selatan. Silsilah keturunannya diakui para perumat keturunan Talaga
yang ada di berbagai tempat di Jawa Barat .Seperti Arya Wangsagoparana di Tanjungsiang,Subang atau KH.Yusuf di Majalaya,Cianjur.
dalam Kitab Melayu Ihwal Kerajaan Pugung di Lampung Selatan. Silsilah keturunannya diakui para perumat keturunan Talaga
yang ada di berbagai tempat di Jawa Barat .Seperti Arya Wangsagoparana di Tanjungsiang,Subang atau KH.Yusuf di Majalaya,Cianjur.
Demikian juga dengan adat seba yang dilakukan masyarakat Nunuk dan
upacara pajang jimat yang secara rutin masih dilakukan para kerabat yang
mengaku keturunan Talaga yang terhimpun dalam Yayasan Talagamanggung.
Semua itu menunjukkan bahwa Kerajaan Talaga memang pernah ada. Kitab
kitab lama yang berada di Cirebon termasuk dari arsip de Haan
menunjukkan bahwa sejarah berdirinya Majalengka berawal dari keruntuhan
Dinasti Talagamanggung pada saat pemerintahan Secanata (1692), suami
ratu terakhir Talaga.
Karena Secanata tidak kompromistis dengan
pemerintahan Belanda pada saat itu. Maka dia digempur tentara VOC dan
lari meninggalkan keraton (1692). Sejak itu, pusat kerajaan Talaga
dipindahkan ke Majalengka sekarang. Arah pelarian Secanata banyak
dituturkan masyarakat mulai dari Cieurih (makam panjang), Kadu sampai
Tanjungsiang.
Secanata adalah suami dari Ratu Tilarnagara, putri
Sunan Kidul. Perhatikan mana Tilarnagara yang artinya ratu yang
meninggalkan negara. Satu catatan untuk diperhatikan, pada tahun 1530
Masehi, Talaga mungkin tidak jatuh atau menjadi jajahan Cirebon.
Setelah masyarakatnya masuk islam , Kerajaan Talaga masih tetap berdiri
dengan raja-rajanya terdiri atas keturunan kerajaan Talaga itu sendiri.
Jadi tidak nampak adanya intervensi dari penguasa Pakungwati untuk
menguasai apalagi menjajah Talaga.
Nampaknya Talaga tidak ditaklukan melainkan adanya pembicaraan bilateral antara kedua kerajaan.
Dalam pustaka Caruban Nagari (Pangeran Arya Carbon-1786) diisyaratkan, tidak terjadi pertempuran antara tentara Talaga
dengan Cirebon.
Dalam pustaka Caruban Nagari (Pangeran Arya Carbon-1786) diisyaratkan, tidak terjadi pertempuran antara tentara Talaga
dengan Cirebon.
Melainkan pembicaraan bilateral antara Sunan Gunung Jati dan Pangeran
Arya Saringsingan yang kemudian dibawa ke forum kerajaan dimana Sunan
Gunungjati langsung berhadapan dengan Pucuk Umum Parunggangsa .
Terjadilah kesepakatan
bilateral yang intinya Sunan Gunungjati diijinkan untuk menyebarkan agama islam di Talaga.
bilateral yang intinya Sunan Gunungjati diijinkan untuk menyebarkan agama islam di Talaga.
Sebuah kerajaan yang rajanya dan rakyatnya masuk Islam tidak selalu
diartikan runtuhnya kerajaan itu.Satu keistimewaan buat Talaga, dalam
pertempuran Rajagaluh atau Indramayu tak pernah diceritakan bahwa Sunan
Gunungjati ikut menangani secara langsung mengislamkan suatu wilayah .
Lalu mengapa untuk Talaga beliau ikut menangani? Bila persepsi
kita benar, Cirebon ternyata tidak pernah menaklukan Talaga. Saat itu Talaga memang sangat kuat dan sulit diserang. Karena
beberapa kerajaan yang memusuhi Cirebon bergabung dengan Talaga. Selain itu , Sunan Gunungjati enggan berhadapan dengan orangtuanya di Pajajaran. Lebih dari itu kerajaan Pajajaran dibawah kekuasaan Prabu Surawisesa, masih sangat kuat.
kita benar, Cirebon ternyata tidak pernah menaklukan Talaga. Saat itu Talaga memang sangat kuat dan sulit diserang. Karena
beberapa kerajaan yang memusuhi Cirebon bergabung dengan Talaga. Selain itu , Sunan Gunungjati enggan berhadapan dengan orangtuanya di Pajajaran. Lebih dari itu kerajaan Pajajaran dibawah kekuasaan Prabu Surawisesa, masih sangat kuat.
Sehingga pada saat bersamaan
antara Banten dan Pajajaranpun terjadi hal serupa. Dalam traktat 29 juni
1531 M (Carita Parahyangan I Bhumi Jawadwiva), kedua belah pihak
mengakui bahwa mereka itu sebetulnya masih bersaudara. Oleh karena itu
mereka berjanji untuk tidak saling menyerang bahkan akan saling
menyayangi dan saling membantu.
Agama Islam berkembang di Talaga, secara
alami, lewat kebebasan dari Parunggangsa kepada ulama Cirebon untuk menyebarkan dakwah tanpa paksaan.
Pesepsi ini melihat kenyataan bahwa untuk seterusnya keturunan Parunggangsa masih tetap menjadi raja di Talaga.
alami, lewat kebebasan dari Parunggangsa kepada ulama Cirebon untuk menyebarkan dakwah tanpa paksaan.
Pesepsi ini melihat kenyataan bahwa untuk seterusnya keturunan Parunggangsa masih tetap menjadi raja di Talaga.
Tidak digantikan oleh orang Cirebon. Artinya, saat itu Talaga belum jatuh atau runtuh. Keruntuhan yang lebih realistis justru
terjadi pada saat Arya Secanata. Bahwa Talaga tak pernah menjadi jajahan Cirebon terlihat dari nama-nama rajanya yang tak satupun berganti nama seperti yang dilakukan keturunan Cirebon. Dalam Babad Cianjur dan Sejarah Subang disebutkan, Arya Wangsagoparana kabur dari Talaga karena ayahnya , Wanapri, Raja Talaga, tak setuju anaknya masuk islam.
terjadi pada saat Arya Secanata. Bahwa Talaga tak pernah menjadi jajahan Cirebon terlihat dari nama-nama rajanya yang tak satupun berganti nama seperti yang dilakukan keturunan Cirebon. Dalam Babad Cianjur dan Sejarah Subang disebutkan, Arya Wangsagoparana kabur dari Talaga karena ayahnya , Wanapri, Raja Talaga, tak setuju anaknya masuk islam.
Dalam pustaka Caruban Nagari disebutkan, bahwa Rajagaluh adalah kerajaan kecil yang berada dibawah kekuasaan samrat
Pajajaran. Sedangkan Kerajaan Talaga merupakan pucuk umum (kordinator wilayah) yang mengkoordinir kerajaan-kerajaan kecil
di wilayah barat. Termasuk Rajagaluh, Parung (Kuningan) dan Tirtayasa (Jatiwangi). Pada saat itu, walaupun di Cirebon ada
kerajaan-kerajaan kecil seperti Indraprasta, Cirebon Girang, Sing Apura atau Surantaka. Namun sebagian wilayah Cirebon ada
yang masuk ke dalam kekuasaan Rajagaluh.
Pajajaran. Sedangkan Kerajaan Talaga merupakan pucuk umum (kordinator wilayah) yang mengkoordinir kerajaan-kerajaan kecil
di wilayah barat. Termasuk Rajagaluh, Parung (Kuningan) dan Tirtayasa (Jatiwangi). Pada saat itu, walaupun di Cirebon ada
kerajaan-kerajaan kecil seperti Indraprasta, Cirebon Girang, Sing Apura atau Surantaka. Namun sebagian wilayah Cirebon ada
yang masuk ke dalam kekuasaan Rajagaluh.
Pada saat telah berdiri kerajaan Pakungwati dan Syarif Hidayatullah
atau Sunan Gunungjati telah diangkat jadi raja di sana. Islampun mulai
disebarkan dari wilayah sana. Cirebonpun telah merasa kuat untuk tidak
tunduk kepada kekuasaan Rajagaluh dibawah pemerintahan Prabu
Cakraningrat.
Namun Sunan Gunungjati tahu betul bahwa Talaga tak
mungkin bisa diruntuhkan, karena selain banyak orang kuat seperti
halnya senapati Arya Saringsingan yang terkenal kesaktiannya. Juga bila
berani menyerang Talaga sama dengan mengusik Pajajaran, kerabat
dekatnya. Ini belum saatnya. Karena taktik Demak saat itu ibarat makan
bubur panas. Makan dari pinggirnya dulu baru ke tengah.
Pajajaranpun runtuh setelah Talaga berdamai dengan Cirebon
lewat misi diplomasi Sunan Gunungjati. Demikian pula halnya dengan Talaga. Rajagaluhlah yang harus terlebih dulu
ditaklukkan , baru kemudian Talaga. (bersambung)..
lewat misi diplomasi Sunan Gunungjati. Demikian pula halnya dengan Talaga. Rajagaluhlah yang harus terlebih dulu
ditaklukkan , baru kemudian Talaga. (bersambung)..
*Penulis adalah wartawan senior, dosen Unma dan budayawan Majalengka.
Sumber:https://www.facebook.com/kcmajalengk/

0 komentar :
Posting Komentar